Peneliti Balitbang Hukum dan HAM, Harison Citrawan Damanik terpilih menjadi salah satu panelis dalam konferensi Asian Studies Association of Australia (ASAA) di University of Sidney, Australia. ASAA telah diselenggarakan secara rutin tiap dua tahun sejak 1976. Pada konferensi ke-22 ini, ASAA mengangkat tema Area Studies and Beyond, yang berupaya menganalisis isu di Asia dengan pendekatan interdisipliner. Panel yang diikuti Harison sendiri bertajuk Contemporary Law in Indonesia and Beyond.
Selasa ini (04/07) Harison, didampingi Kepala Balitbang Hukum dan HAM, Prof. R. Benny Riyanto serta Kepala Puslit HAM, Augusta Embly, mempresentasikan makalahnya yang berjudul The Impacts of Amnesty Law towards Reconciliation in Post-Aceh Conflict. Dalam makalahnya, Harison berargumen bahwa pendekatan “amnesty and surrender” yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam rekonsiliasi konflik di Aceh gagal menciptakan perdamaian jangka panjang. Pendekatan ini justru menimbulkan segregasi dalam masyarakat Aceh yang di kemudian hari muncul sebagai konflik-konflik kecil. Konflik yang dimaksud kerapkali kentara pada momen pemilihan kepala daerah.
Kebaruan perspektif yang Harison tawarkan diharapkan mampu memperkaya literatur Indonesia terkait konflik serta menawarkan pendekatan rekonsiliasi konflik yang berjangka panjang. (*Nes)
Editor: Ernie Nurheyanti

 

Harison Citrawan


Komentar (0)