Seoul (26/08), Peneliti Balitbang Hukum dan HAM, Josephin Mareta, mempresentasikan penelitiannya dalam The 4th Asia Future Conference. Konferensi yagn berlangsung hingga 28 Agustus ini mengambil tema “Peace, Prosperity, and Dynamic Future”. Penelitian Mareta yang mengambil locus Kabupaten Cirebon ini  berjudul “Local Community Participation on Intelectual Property Rights Protection of Cirebon Batik”.

Sistem hukum kekayaan intelektual Indonesia, menurut Mareta, tidak sesuai dengan konteks sosial-budaya pengrajin batik Cirebon. Bagi sebagian besar pengrajin, batik merupakan milik komunal. Sementara, sistem hukum hak kekayaan intelektual Indonesia sifatnya individual. Implikasinya, perlindungan hukum terhadap motif seni batik Cirebon sulit didapatkan.

Menurut Mareta, selama ini pemerintah kabupaten Cirebon telah mengadakan penyuluhan hukum mengenai perlindungan hak kekayaan intelektual. Namun, upaya ini tidak akan efektif selama pendekatan yang digunakan tidak memerhatikan sistem komunal yang telah membudaya di masyarakat. Pemerintah Kabupaten Cirebon, menurut Mareta, perlu mengeluarkan peraturan daerah yang dapat melindungi hak kekayaan intelektual batik Cirebon.

Presentasi yang terlaksana di Seoul ini turut dihadiri dan didukung oleh Kepala Balitbang Hukum dan HAM, Prof. R. Benny Riyanto serta Kapuslitbang Hukum, Seprizal. (Humas)

 

mareta


Komentar (0)