Jakarta (26/06)- Obrolan peneliti (OPini) Balitbangkumham kembali digelar pagi ini. Antusiasme tinggi tampak dari jumlah peserta yang mencapai angka 652 hingga akhir acara. Gelaran opini kali ini mengusung tema “Etika, metode dan publikasi penelitian hukum dan HAM di era new normal”.

Hadir sebagai narasumber yaitu Ahyar, S.H., M.H. ( Peneliti Ahli Utama Balitabngkumham), Tony Yuri Rahmanto, S.H., M.H. (Peneliti Muda Balitbangkumham), Dr. Zahara T. Rony, S.Pd., M.M., CIQaR., CIQnR ( Dosen Uiversitas Bhayangkara Jakarta Raya) dan Dr. Herlambang Wiratrama, S.H., M.A. ( Dosen Universitas Airlangga). Kegiatan opini3 ini juga dipandu langsung oleh Dr. Ricca Anggraeni, S.H., M.H. yang merupakan Dosen Universitas Pancasila.

Selama masa pandemi kegiatan penelitian dan pengembangan harus tetap berjalan. Balitbangkumham pun tetap produktif dan berkinerja maksimal meski terkendala banyak batasan. Peneliti Muda, Tony Yuri mengulas beberapa tantangan penerapan metode kualitatif di era pandemi. Menurutnya, pandemi telah membatasi penggunaan metode observasi meski teknik wawancara masih bisa digunakan secara virtual. Peneliti dituntut untuk berjejaring dan melakukan koordinasi agar pengambilan data yang dilakukan secara virtual tetap sahih.

Merespon hal tersebut, peneliti Ahli Utama, Ahyar, mengingatkan kembali kode etik yang harus dijaga oleh peneliti. Jangan sampai teknologi melanggar kode etik yang selama ini dipegang teguh peneliti. "Data memang harus sahih, tapi etika pengambilan data juga jangan dilupakan," serunya.

Herlambang, dosen Universitas Airlangga, melengkapi pendapat Ahyar. Herlambang mengingatkan pentingnya privacy/ keamanan data para pengguna internet. Saat ini Indonesia belum memiliki undang- undang perlindungan data pengguna internet, sehingga rawan sekali terjadi penyalahgunaan data pengguna internet untuk diperjualbelikan atau disalahgunakan.

Zahara sepakat soal pemanfaatan teknologi dalam pengambilan sampe terutama untuk riset kuantitatif. Meski penggunaan metode kuantitaif tidak banyak mengalami perubahan namun ada beberapa catatan yang harus dilakukan peneliti di masa pandemi ini. Menurutnya peneliti harus menjalin komunikasi yang baik dengan responden. Tanpa komunikasi yang baik, responden belum tentu memberikan jawaban survei yang jujur dan tepat. "Peneliti harus mampu meyakinkan pada responden bahwa penelitian yang sedang dilakukan juga bermanfaat untuk si responden," lengkapnya.

Di akhir diskusi, Kepala Balitbangkumham, Sri Puguh Budi Utami, mengingatkan agar dalam kondisi sesulit apapun, jajaran Balitbangkumham akan terus belajar dan berkembang. "Hasil penelitian harus terus dipublikasikan namun dengan etika yang benar," pesannya. Diskusi daring OPini ini merupakan diskusi ketiga yang diselenggarakan Balitbangkumham. Dengan tagline Kritis Mencerdaskan, Opini berupaya untuk menumbuhkan kultur diskusi ilmiah di tengah masyarakat. (*Humas)

a


Komentar (0)