Jakarta (09/03) – Kepala Seksi Kehumasan, Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik Provinsi Kalteng Arbandigana Patianom mengungkapkan peluang Kekayaan Intelektual (KI) yang ada di daerah sangat besar seperti obat- obat tradisional , hasil tenun, karya-karya seni dan seni ukir yang pada akhirnya bisa menjadi peluang ekonomi UMKM daerah. “Diharapkan dengan adanya Kekayaan Intelektual di daerah dapat membantu pertumbuhan ekonomi daerah tersebut, bahkan dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat luas,” jelas Patianom.

 

Sejalan dengan yang disampaikan Arbandigana, Kepala Kanwil Kemenkumham Kalimantan Tengah, Ilham Djaya, menyampaikan bahwa potensial KI di Kalteng juga sangat besar. Sayangnya banyak yang belum didaftarkan karena ketidaktahuan masyarakat tentang proses pendaftaran KI. “Untuk itu kita akan membuka pojok KI di seluruh SMP di Kalteng, diharapkan dengan adanya pojok KI akan muncul para duta KI yang nantinya membantu sosialisasi kepada masyarakat tentang proses pendaftaran KI, dan sekaligus memudahkan masyarakat untuk mendaftarkan KI mereka,” ujar Ilham.

 

Peneliti Balitbangkumham, Harison Citrawan, dalam paparannya juga menyampaikan pentingnya masyarakat untuk mendaftarkan setiap KI, terutama bagi para penjual yang melakukan transaksi di e-commerce. “Karena jika tidak ada perlindungan KI bisa jadi barang yang asli dibajak oleh orang lain, dan berakibat kerugian bagi konsumen dan penjual, jika merek yang diperdagangkan sudah terdaftar, setidaknya membantu para penjual menjaga kualitas barang dan kepercayaan konsumen,” jelas Horison.

 

Diskusi mengenai Ekspektasi Pemangku Kepentingan Dalam Rezim Kekayaan Intelektual Yang Responsif oleh Kantor Wilayah merupakan rangkaian diskusi daring OPini yang akan digelar di 33 kantor wilayah. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balitbangkumham Dr. Sri Puguh Budi Utami, selain narasumber diatas, kegiatan OPini ini turut menghadirkan Ronaldi, Dosen Fakultas Hukum Universitas Palangkaraya sebagai narasumber. (*Humas)

 

 

 


Komentar (0)