Jakarta (5/8) – Kesehatan mental merupakan hal penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, dan merupakan salah satu hak dasar yang harus dilindungi dan dipenuhi. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah keberadaan orang-orang yang kita sayangi di sekitar kita. Hal tersebut tentu tidak bisa dirasakan oleh para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang sedang berhadapan dengan hukum dan harus berada di Rumah Tahanan Negara (Rutan) atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

 

“Hal itu bisa menimbulkan tekanan bagi mental para WBP, dan menjadikan tingkat stress mereka semakin tinggi, bisa jadi saat mereka di dalam rutan justru mereka menjadi depresi dan melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Padahal tujuan dari pemasyarakatan adalah untuk membina para WBP untuk siap kembali bersosialisasi di tengah masyarakat,” pesan Aman Riyadi, Kepala Pusat Pengelolaan Data dan Informasi Balitbang Hukum dan HAM.

 

Dr. dr. Natalia Widiasih Raharjanti, Divisi Psikiatri Forensik, Depart/KSM Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, mengatakan bahwa kesehatan mental seseorang juga dapat mempengaruhi perilaku individu kepada lingkungan di sekitarnya. “Hal itu dikarenakan coping mechanism setiap orang berbeda, ada yang mampu mengolah emosinya dengan baik, sehingga tidak mempengaruhi perilaku individu tersebut, namun ada juga yang tidak mampu mengelola emosinya dengan baik, sehingga output perilaku yang dihasilkan menjadi dua yaitu menyakiti dirinya sendiri, atau menyakiti orang lain, kemungkinan kedua inilah yang menjadi dorongan bagi seseorang untuk melakukan kejahatan, inilah yang perlu kita pertimbangkan juga dalam menghadapi WBP, jangan sampai karena salah penanganan akhirnya malah semakin memperparah keadaan,” jelas Natalia.

 

Kegiatan Diskusi Grup Terfokus ini juga menghadirkan Analis Keijakan Pertama, Chintia Octenta sebagai Narasumber dan setelahnya akan dilaksanakan pengumpulan data ke lokus-lokus yang sudah ditentukan sebelum pengambilan kesimpulan. (*Humas)

 

 


Komentar (0)