Jakarta (26/10) – Balitbang Hukum dan HAM berhasil menggelar Konferensi Internasional Virtual tentang Hukum dan HAM untuk pertama kalinya. Sampai hari ini sudah 15.228 yang mendaftar dalam sesi pembukaan dan 12 panel kelas. Peserta dan pemakalah datang dari berbagai negara antara lain India, Thailand, Malaysia, Australia dan Turki. Konferensi akbar ini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk Konferensi Internasional Virtual dengan Jumlah Kehadiran Peserta yang Terbanyak.

Mengangkat tema “Reimagining the Vision on Law and Human Rights”, konferensi ini akan membahas gagasan-gagasan inovatif di bidang hukum dan HAM pada era tatanan baru. Kepala Balitbang Hukum dan HAM, Sri Puguh Budi Utami menjelaskan bahwa seminar ini adalah wadah bagi para praktisi, akademisi dan pemangku kebijakan untuk bersama-sama memikirkan ulang situasi hukum dan HAM setelah pandemi Covid-19.

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly, dalam pidato kuncinya pagi ini menjelaskan berpendapat bahwa berbagai tantangan dan perubahan membuat sistem hukum harus beradaptasi. Pada waktu yang sama, proses pemulihan dari pandemi membawa risiko pelanggaran HAM yang baru. “Pemerintah harus merespon isu ini dengan langkah-langkah strategis tidak hanya melibatkan aktor nasional tapi juga kerjasama global,” jelas Yasonna.

Yasonna berpendapat, berbagai langkah pemulihan oleh pemerintah harus didasari pada semangat inklusi dan keadilan sosial. Pemerintah telah menganggarkan 366,4 Triliyun, untuk kesehatan, kerja-kerja sosial dan pengembangan UMKM. “Kebijakan pemulihan harus berkelanjutan dan memihak kelompok miskin, perempuan, anak dan kelompok rentan yang termajinalisasi,”

Sementara itu Menteri Riset dan Teknologi Prof. Bambang Brodjonegoro, yang turut hadir dalam pembukaan konferensi memberikan apresiasi yang tinggi untuk Balitbangkumham. Menurutnya Konferensi Internasional ini sangat penting untuk menumbuhkan semangat penelitian di Indonesia. Data dari Global Innovation Index menunjukkan Indonesia ada di peringkat 85 dunia, kalah jauh dibanding negara tetangga Malaysia dan Singpura. “Saya berharap konferensi hari ini tidak berhenti hanya di presentasi saja tapi menghasilkan gagasan dan inovasi yang luar biasa untuk Indonesia, apalagi untuk pemulihan dunia dari pandemi,” ungkapnya.

Prof. Bambang juga mengapresiasi konsep konverensi virtual yang digagas Balitbangkumham. Menurutnya konsep ini sangat sesuai dengan transformasi digital yang harus dilakukan seluruh lembaga riset untuk beradaptasi dengan situasi terkini.

Kepala Balitbangkumham Sri Puguh Budi Utami dalam laporannya menyebutkan terdapat 73 naskah makalah dari tujuh negara yang terkumpul dalam konferensi ini. Nantinya, makalah yang terkumpul akan kembali direview untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Konferensi Ilmiah Internasional yang diselenggarkaan Balitbangkumham bekerjasama dengan Unsyiah ini masih berlangsung hingga 27 Oktober 2020. (*Humas)


Komentar (0)