Jakarta(16/6) - Menjadi peneliti tidak cukup hanya dengan memiliki passion, dedikasi, tanggungjawab dan kompetensi saja. Selain keempat hal tersebut, peneliti harus peka dan responsif terhadap kondisi sosial yang terkini. Pesan ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara, Dr. Zahara Tussoleha Rony dalam kegiatan penguatan metode penelitian hari ini. Menurut Zahara, peneliti harus pintar dan kreatif membaca situasi. “Sekarang kita dalam masa pandemi, ya harus berpikir gimana mengatasi permasalahan ini dalam penelitian,” jelas Zahara memberi contoh. Untuk itu menurut Zahara, peneliti harus memiliki imajinasi kuat agar bisa mendesain hal-hal baru. Dalam pertemuan ini Zahara juga menjelaskan mengenai pengetahuan dasar yang harus dimiliki para peneliti yaitu mengenai paradigma dan metode penelitian. Zahara banyak membahas bagaimana memulai penelitian, mulai dari pembahasan ontologis, epistemologis hingga metodologis. Tema ini diambil karena masih banyak peneliti yang seringkali keliru terutama dalam menggunakan metode penelitian. “Seringkali kita dengan mudah bilang pakai mixed methods, padahal pemakaian metode kualitatif dan kuantitatif tidak bisa tumpang tindih semudah itu,” jelasnya. Kegiatan yang berlangsung via videoconference ini merupakan upaya pengembangan SDM Balitbang Hukum dan HAM. Pertemuan ini menjadi pembuka untuk rangkaian penguatan metode penelitian yang akan berlangsung dalam empat pertemuan ke depan. Kepala Balitbangkumham, Sri PuguhBudi Utami, meminta para peneliti dapat mengikuti kegiatan ini dengan bersungguh-sungguh. “Saya harap pertemuan ini bisa menyegarkan kembali cara berpikir kita tentang penelitian, mengingatkan kembali bagaimana dedikasi kita sebagai peneliti,” harap Utami. (*Humas)

WhatsApp_Image_2020-06-16_at_15.28.13


Komentar (0)