Jakarta (02/03) – Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Mataram, Rodliyah, menyampaikan bahwa tidak hanya Pembimbing Kemasyarakatan (PK) yang berperan dalam pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan ( WBP ). Masyarakat juga memiliki peran karena masyarakat adalah tempat para WBP akan pulang. “Banyak WBP yang saat pulang ke rumah, mengalami penolakan dari masyarakat seperti diusir karena di anggap mantan narapidana atau menerima pengucilan dari masyarakat. Kejadian ini tentu akan mempengaruhi mental mereka sehingga ditakutkan mereka kembali ke jalan yang salah,’’ jelas Rodliyah

 

Menurut Rodliyah, perlu adanya pemisahan tahanan berdasarkan kategori kejahatan yang dilakukan untuk mencegah transfer ilmu negatif. “Jangan sampai maling ayam saat keluar dari penjara malah jadi maling mobil, karena dapat transfer ilmu dari teman satu selnya. Disini peran Pembimbing kemsyarakatan sangat penting untuk membuat para WBP sadar akan kesalahannya dan mau menjadi warga negara yang baik,’’ pesan Rodliyah.

 

Dalam paparannya, Rodliyah juga menjelaskan pentingnya pembinaan narapidana sebagai salah satu cara mengatasi kasus overcapacity di lapas dan di rutan. Salah satu penyebab kasus overcapacity karena banyak eks napi kembali dipenjara dan menyebabkan bertambahnya penghuni. Apabila PK berhasil membina para WBP sesuai dengan kebutuhannya, secara tidak langsung dapat membantu mengatasi kasus overcapacity di penjara.

 

OPini yang diselenggarakan di Kanwil NTB ini merupakan rangkaian kegiatan OPini Kanwil yang akan diselenggarakan di 33 Kanwil di seluruh Indonesia. Selain Rodliyah, OPini kali ini juga mengundang dua narasumber lain yaitu Sudirman , Kepala Bapas Mataram, dan Edward James Sinaga, Peneliti Balitbangkumham. (*humas)

 

 

 


Komentar (0)