Jakarta (30/11) - Pilkada Serentak 2020 masih diliputi isu politik identitas dan SARA. Anggota Bawaslu, Dr. Ratna Dewi Pettalolo, mengatakan isu politik identitas ada di peringkat keempat dalam deretan isu penting selain politik uang, pandemi dan ujaran kebencian.

Bawaslu mengidentifikasi paling tidak terdapat tujuh wilayah dengan tingkat kerawanan isu SARA yang tinggi seperti Kota Depok, Kabupaten Halmahera Timur dan Kabupaten Solok. Sementara itu terdapat 18 dengan tingkat kerawanan sedang dan 236 dengan tingkat kerawanan rendah.

Menurut Dr. Sri Eko Budi Wardani, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI, politik identitas sengaja dimunculkan oleh elit politik untuk mendulang suara. Fenomena ini terjadi salah satunya karena de-ideologisasi di era orde baru. “Ketika masyarakat tidak lagi punya ideologi, salah satu yang bisa menarik simpati masyarakat untuk terikat ya identitas,” jelasnya. Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, menyampaikan pemerintah menaruh perhatian penuh pada maraknya politik identitas, isu SARA dan ujaran kebencian di tengah pilkada. Oleh karena itu, Kemenkominfo dan Bawaslu senantiasa bekerjasama untuk meresponmasalah ini. Keduanya telah melakukan pemetaan terhadap situs-situs internet yang didapati menyebarkan fitnah, ujaran kebencian dan SARA.

Widodo berharap kolaborasi ini juga didukung dengan masyarakat yang cerdas dalam berliterasi. “Kami menyediakan layanan aduan konten dan cek fakta yang bisa diakses oleh masyarakat sehingga tidak terjerumus di berita palsu dan ujaran kebencian,” terangnya. Tony Yuri Rahmanto, peneliti Balitbangkumham sepakat bahwa pemilih harus bijak dalam menyambut Pilkada. “Memilih bukan sekedar memperjuangkan hak, tapi juga memberikan kepercayaan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Kepala Balitbangkumham, Sri Puguh Budi Utami, mengapresiasi pemaparan dari para narasumber. Utami berharap forum diskusi OPini dapat mencerahkan para pemilih di tengah disrupsi informasi.

Kegiatan OPini yang dimoderatori oleh Donny de Keizer ini diikuti lebih dari 350 peserta secara daring. Diskusi kali ini merupakan OPini kesembilan yang diselenggarakan secara daring dan menjadi OPini penutup di tahun 2020. (*Humas)

 


Komentar (0)